Anak desa juga punya mimpi
Medlyn
Elmitria Tapai
Indonesia
semakin hari kualitasnya semakin rendah. Berdasarkan Survey United Nations
Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia
Pacific, Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk
kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 39 dari 42 negara berkembang
di dunia. Itu berarti dapat dikatakan bahwa system pendidikan di Indonesia
masih sangat buruk dan sangat diperlukan perhatian dari pemerintah.
Apakah arti pendidikan yang sebenarnya? Mengapa
Indonesia adalah negara yang sangat kurang dengan pendidikan? Apakah karena
fasilitas yang sangat terbatas? Ataukah pemerintah yang masih kurang tegas
dalam menciptakan dunia pendidikan yang baik?
Pendidikan adalah salah
satu proses dimana karakter didik seseorang
dibentuk. Tanpa pendidikan kita tidak akan mengetahui yang namanya
membaca, menulis, sopan-santun, hal yang baik/buruk, dsb. Pendidikan bertujuan
agar kita dapat berjuang dengan Negara-negara lain dan membawa negara kita agar
lebih berkembang lagi. Pendidikan tidak mengenal dia berasal dari keluarga
mana, agama, ras, suku, budaya, dsb. Tetapi, bagaimana kita mampu menggunakan
waktu dan kesempatan kita dengan baik untuk menutut ilmu.
Ada yang mengatakan bahwa pendidikan di pedesaan
sangat berbeda dengan pendidikan di perkotaan. Oleh karena itu, orang di pedesaan
sangat sulit untuk mengejar impian mereka. TIDAK!! Survey membuktikan
siswa-siswi yang bersekolah di pedesaan memiliki semangat juang yang tinggi
dibandingkan dengan siswa-siswi yang bersekolah di perkotaan. Mereka
betul-betul menggunakan kesempatan mereka untuk menuntut ilmu disekolahnya.
Meskipun fasilitas yang dimiliki oleh sekolahnya masih sangat terbatas, tetapi
mereka tidak pernah menyerah untuk terus berjuang demi cita-cita mereka. Contohnya,
kita sering melihat di TV, dimana ketika ada banjir yang menimpa desa mereka,
bukannya mereka tinggal di rumah namun mereka berjuang melewati jalan yang
terkena banjir itu demi untuk pergi bersekolah. Sedangkan di kota? Mereka tidak
menggunakan kesempatan itu dengan baik. Fasilitas di desa memang sangat
terbatas tetapi sadarkah kita bahwa mereka yang bersekolah di kota hanya datang
ke sekolah karena hanya ingin memamerkan apa yang dimiliki. Seperti, ada yang
ingin memamerkan handphone barunya, laptop, kekayaan (uang) yang mereka miliki,
sweater baru, pomade, lipstick, dsb. Mereka hanya menjadikan sekolah itu
sebagai tempat untuk bergaya. Mereka tidak pernah berpikir bahwa diluar sana
ada begitu banyak orang yang ingin bersekolah namun karena terbatasnya
fasilitas yang dimiliki mereka tidak mampu untuk bersekolah seperti mereka.
Kebanyakan anak-anak di perkotaan selalu
membanggakan dirinya. Mereka menghina anak-anak pedesaan yang berjuang demi
mimpinya. Bahkan mereka mengatakan bahwa anak-anak yang bersekolah di pedesaan
tidak akan mungkin menggapai apa yang mereka impikan. Itu adalah sesuatu yang
mustahil. Siapa bilang? Mereka juga punya nyali kok. Mereka punya mimpi! Mereka
akan membuktikan bahwa mereka juga bisa. Mereka akan terus berjuang hingga
mimpi itu menjadi sebuah kenyataan. Mereka tidak peduli dengan cemoohan yang datang
dari luar sana. Mereka tidak peduli dengan kurangnya ekonomi yang dimiliki,
bahkan mereka tidak peduli dengan kurangnya fasilitas yang ada di sekolah
mereka.
Itulah perbedaan anak kota dan anak desa. Anak kota
yang memikirkan bagaimana caranya untuk menggapai mimpi mereka sedangkan anak
desa memikirkan bagaimana caranya menghadapi dan melewati segala tantangan yang
ada untuk menggapai mimpinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar