Kamis, 23 November 2017

Anak Desa Juga Punya Mimpi

Anak desa juga punya mimpi
Medlyn Elmitria Tapai

Indonesia semakin hari kualitasnya semakin rendah. Berdasarkan Survey United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 39 dari 42 negara berkembang di dunia. Itu berarti dapat dikatakan bahwa system pendidikan di Indonesia masih sangat buruk dan sangat diperlukan perhatian dari pemerintah.

Apakah arti pendidikan yang sebenarnya? Mengapa Indonesia adalah negara yang sangat kurang dengan pendidikan? Apakah karena fasilitas yang sangat terbatas? Ataukah pemerintah yang masih kurang tegas dalam menciptakan dunia pendidikan yang baik?
Pendidikan adalah salah satu proses dimana karakter didik seseorang  dibentuk. Tanpa pendidikan kita tidak akan mengetahui yang namanya membaca, menulis, sopan-santun, hal yang baik/buruk, dsb. Pendidikan bertujuan agar kita dapat berjuang dengan Negara-negara lain dan membawa negara kita agar lebih berkembang lagi. Pendidikan tidak mengenal dia berasal dari keluarga mana, agama, ras, suku, budaya, dsb. Tetapi, bagaimana kita mampu menggunakan waktu dan kesempatan kita dengan baik untuk menutut ilmu.
Ada yang mengatakan bahwa pendidikan di pedesaan sangat berbeda dengan pendidikan di perkotaan. Oleh karena itu, orang di pedesaan sangat sulit untuk mengejar impian mereka. TIDAK!! Survey membuktikan siswa-siswi yang bersekolah di pedesaan memiliki semangat juang yang tinggi dibandingkan dengan siswa-siswi yang bersekolah di perkotaan. Mereka betul-betul menggunakan kesempatan mereka untuk menuntut ilmu disekolahnya. Meskipun fasilitas yang dimiliki oleh sekolahnya masih sangat terbatas, tetapi mereka tidak pernah menyerah untuk terus berjuang demi cita-cita mereka. Contohnya, kita sering melihat di TV, dimana ketika ada banjir yang menimpa desa mereka, bukannya mereka tinggal di rumah namun mereka berjuang melewati jalan yang terkena banjir itu demi untuk pergi bersekolah. Sedangkan di kota? Mereka tidak menggunakan kesempatan itu dengan baik. Fasilitas di desa memang sangat terbatas tetapi sadarkah kita bahwa mereka yang bersekolah di kota hanya datang ke sekolah karena hanya ingin memamerkan apa yang dimiliki. Seperti, ada yang ingin memamerkan handphone barunya, laptop, kekayaan (uang) yang mereka miliki, sweater baru, pomade, lipstick, dsb. Mereka hanya menjadikan sekolah itu sebagai tempat untuk bergaya. Mereka tidak pernah berpikir bahwa diluar sana ada begitu banyak orang yang ingin bersekolah namun karena terbatasnya fasilitas yang dimiliki mereka tidak mampu untuk bersekolah seperti mereka.
Kebanyakan anak-anak di perkotaan selalu membanggakan dirinya. Mereka menghina anak-anak pedesaan yang berjuang demi mimpinya. Bahkan mereka mengatakan bahwa anak-anak yang bersekolah di pedesaan tidak akan mungkin menggapai apa yang mereka impikan. Itu adalah sesuatu yang mustahil. Siapa bilang? Mereka juga punya nyali kok. Mereka punya mimpi! Mereka akan membuktikan bahwa mereka juga bisa. Mereka akan terus berjuang hingga mimpi itu menjadi sebuah kenyataan. Mereka tidak peduli dengan cemoohan yang datang dari luar sana. Mereka tidak peduli dengan kurangnya ekonomi yang dimiliki, bahkan mereka tidak peduli dengan kurangnya fasilitas yang ada di sekolah mereka.

Itulah perbedaan anak kota dan anak desa. Anak kota yang memikirkan bagaimana caranya untuk menggapai mimpi mereka sedangkan anak desa memikirkan bagaimana caranya menghadapi dan melewati segala tantangan yang ada untuk menggapai mimpinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

10 Negara dengan Universitas Terbaik   1. Finlandia: Finlandia secara rutin menduduki peringkat teratas dalam sistem pendidika...